Cagar Alam Padang Luwai

Cagar Alam Padang Luwai

Informasi Umum

Cagar Alam Padang Luwai merupakan kawasan konservasi dengan fungsi sebagai Cagar Alam. Secara administratif, kawasan ini terletak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Melak, Kecamatan Damai, dan Kecamatan Sekolaq Darat, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Secara geografis, Cagar Alam Padang Luwai berada pada koordinat 0°16’–0°22’ Lintang Selatan dan 115°41’–115°47’ Bujur Timur. 


Sejarah Kawasan

Berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 110/Um/1957 tanggal 14 Juni 1957, kawasan hutan Padang Luwai yang ditunjuk sebagai Cagar Alam hanya seluas 1.000 hektar (ha). Selanjutnya, melalui Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 85/T.H.Kehut/1967 tanggal 15 Juni 1967, luas kawasan diperluas menjadi 5.000 ha. Perkembangan status kawasan kemudian ditegaskan kembali melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.1834/Menhut-VII/KUH/2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Cagar Alam Padang Luwai seluas 4.785,23 ha di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. 


Kondisi Fisik dan Ekologis

1. Iklim

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, kawasan Cagar Alam Padang Luwai di golongkan kedalam tipe iklim A yaitu termasuk dalam kategori hutan hujan tropika yang sangat basah dengan nilai Q = 9.2%. Jika dilihat dari iklim di Kabupaten Kutai Barat termasuk tropika humida, dengan rata-rata curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April dan terendah di bulan Agustus serta tidak menunjukkan adanya bulan kering atau sepanjang bulan dalam satu tahun selalu terdapat sekurang-kurangnya tujuh hari hujan. 

Temperatur minimum umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Januari sedangkan temperatur maksimum terjadi antara bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Daerah beriklim seperti ini tidak mempunyai perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau.

Berdasarkan data curah hujan dari stasiun pengamat cuaca diperoleh data curah hujan rata-rata pertahunnya adalah 226,68 mm dengan hari hujan rata-rata pertahun 23,58 hari (Sumber dari Kutai Barat dalam Angka Tahun 2023). 

2. Topografi dan Kelerengan

Kawasan Cagar Alam Padang Luwai terletak di dataran rendah dengan topografi bergelombang, serta kemiringan lereng kawasan ini berkisar kurang lebih 10° dengan ketinggian tempat bervariasi dari lembah bukit hingga puncak bukit tetapi variasi ketinggiannya tak terlalu besar yaitu antara 35 m hingga 120 m dpl.

3. Geologi

Berdasarkan peta geologi Provinsi Kalimantan Timur skala 1 : 250.000 dari Badan Geologi Kementerian ESDM, formasi geologi di wilayah Cagar Alam Padang Luwai terdiri dari batuan sedimen alluvium, latosol, undak dan terumbu koral serta batuan sedimen miosin bawah.

Untuk jenis tanah di kawasan CA Padang Luwai adalah latosol dengan bahan induk batuan beku dan endapan berfisiografi lapangan datar dan jenis tanah podsolik merah kuning dengan bahan induk batuan beku dan endapan berfisiografi lapangan bukit dan pegunungan lipatan.

Kawasan hutannya termasuk dalam kategori hutan kerangas. Tekstur tanahnya ini berupa pasir kuarsa, yang apabila basah berwama hitam dan pada kondisi kering berwama putih mengkilat dan sangat gembur. Kondisi kawasan seperti ini oleh penduduk setempat dikenal dengan nama Padang Siola didukung oleh jenis tanahnya yang termasuk jenis tanah podsol. Proses podsolisasi disebabkan oleh tanah bertekstur pasir kuarsa sangat permeabel, miskin hara, curah hujan tinggi, dan vegetasi yang memungkinkan terbentuknya humus asam akibat berkadar basa rendah. 

4. Hidrologi

Sungai Nabah, Sungai Nyuling, Sungai Luwai, dan Sungai Pesing. Sungai-sungai tersebut bermuara ke Sungai Mahakam. Beberapa sungai tersebut menjadi batas alami kawasan CA Padang Luwai, diantaranya yaitu Sungai Nabah dan Sungai Pesing. 


Keanekaragaman Hayati 

1. Potensi Flora

Cagar Alam Padang Luwai merupakan kawasan hutan kerangas, yang tanahnya berupa kersik (pasir) yang berwana putih. Ciri hutan kerangas antara lain tanahnya miskin unsur hara, serta tumbuhan yang ada berukuran kecil-kecil. Hutan ini merupakan habitat penting bagi berbagai jenis anggrek terutama anggrek hitam (Coelogyne pandurata). Berdasarkan hasil kegiatan inventarisasi potensi, jenis-jenis pohon yang menyusun hutan CA Padang Luwai yaitu, berganyi (Vaccinium varingiaefolium), pelawan (Tristania obovata), nyerapi (Calophyllum glaucum), merosi (Ardisia sp.), uway (Eugenia sp.), dan kerabitik (Syzygium sp.). Terdapat 3 (jenis) jenis ekosistem yaitu hutan kerangas, hutan rawa dan hutan dataran rendah. 

Hutan Kerangas

Hutan kerangas di Cagar Alam Padang Luwai merupakan habitat dari Anggrek hitam (Coelogyne pandurata). Anggrek hitam yang tumbuh berkelompok penyebarannya terletak di 4 'pulau' di kawasan hutan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan di beberapa pulau habitat anggrek yang berada di hutan kerangas, ditemukan beberapa spesies, yaitu Callophylum glaucum, Melastoma affine, Rhodomyrtus tomentosus, Syzygium sp., Syzygium zeylanicum, Tristania obovata, dan Vaccinium voringaefolium. Selain itu, ditemukan pula jenis Nepenthes reindwartiana dan Nepenthes gracilis di kawasan ini.

Hutan Dataran Rendah

Hutan dataran rendah di Cagar Alam Padang Luwai didominasi oleh spesies yang berasal dari famili Dipterocarpaceae, yaitu spesies Shorea balangeran, Shorea pinanga, Shorea sp., dan Dryobalanops camphors. Selain itu, ditemukan pula jenis lainnya, yaitu Artocarpus champeden, Tristania obovata, Deehasia sp., Schima wallichii, Eugenia sp., dan lain-lain. Namun hutan dataran rendah Cagar Alam Padang Luwai saat ini semakin banyak yang dibuka oleh masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam untuk dijadikan perkebunan karet sehingga jenis Havea brasiliensis ditemukan pula di kawasan ini.

Hutan Rawa

Hutan rawa yang berada di Cagar Alam Padang Luwai, pada saat pengamatan, kondisi hutan rawa tergenang air dengan kedalaman air yang berbeda-beda. Lantai hutan tidak dapat terlihat karena tertutup oleh rumput ilalang sehingga tidak ditemukan spesies pada tingkatan semai di kawasan ini. Rumput ilalang yang banyak ditemukan di kawasan tersebut dapat mencapai ketinggian lebih dari 2 meter. Ditemukan pula spesies-spesies pohon penyusun tegakan, diantaranya yaitu, Cratoxylum arbrescens, Ficus sp., Eugenia sp., Deehasia sp., dan jenis Nephentes. 

Jenis Pohon yang ditemukan di Cagar Alam Padang Luwai.

Jenis Pohon yang Ditemukan di CA Padang Lauwai.png 89.01 KB
Jenis Anggrek yang ditemukan di CA Padang Luwai.
Jenis Anggrek yang ditemukan di CA Padang Luwai.png 50.88 KB
Jenis Nepenthes yang ditemukan di CA Padang Luwai.
Jenis Nepenthes yang ditemukan di CA Padang Luwai.png 22.17 KB
2. Potensi Fauna

Beberapa spesies yang berada di Cagar Alam Padang Luwai diantaranya adalah burung Kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), Elang bondol (Haliastur indus), Kijang (Muntiacus muntjak), Monyet ekor panjang (Macacafascicularis), dan lain-lain. 

Burung 

Jenis Burung yang ditemukan di Cagar Alam Padang Luwai sebanyak 41 spesies dari 19 famili. Pada lokasi pengamatan di rawa dan semak belukar ditemukan sebanyak 27 spesies yang termasuk dalam 15 famili sedangkan di kebun karet ditemukan sebanyak 24 spesies dari 16 famili. Sementara itu di hutan dataran rendah ditemukan sebanyak 14 spesies yang termasuk dalam 9 famili dan di pulau habitat anggrek ditemukan sebanyak 10 spesies yang termasuk dalam 8 famili.

Hasil Pengamatan Jenis Burung yang Ditemukan : 

Jenis Burung di CA Padang Luwai.png 293.98 KB
Mamalia
Dijumpai 3 jenis mamalia yang termasuk dalam 3 famili. Jenis mamalia yang tercatat seperti monyet ekor panjang, babi hutan dan kijang. Berikut daftar mamalia yang ditemukan baik perjumpaan langsung maupun melalui tanda-tanda perjumpaan :
Mamalia di CA Padang Luwai.png 23.48 KB

Herpetofauna

Jumlah jenis herpetofauna yang ditemukan di CA Padang Luwai hanya satu jenis, yaitu ular koros kecil/ular kayu (Ptyas korros) yang masuk dalam famili Colubridae. Ular kayu tersebut ditemukan secara langsung di sekitar batang kayu yang sudah mati pada lokasi pengamatan hutan dataran rendah. 

Reptilia

Ditemukan setidaknya 2 (dua)  jenis reptilia pada kawasan Cagar Alam Padang Luwai yaitu kadal dan biawak. Jenis biawak ditemukan pada kawasan karena Cagar Alam Padang Luwai dilalui oleh beberapa sungai di antaranya Sungai Nabah, Sungai Nyuling, Sungai Luwai dan Sungai Pesing yang bermuara ke Sungai Mahakam.

Reptilia di CA Padang Luwai.png 9.27 KB

Potensi dan Pemanfaatan 

1. Potensi Hayati 

Beberapa jenis tumbuhan yang berada di Cagar Alam Padang Luwai dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai tanaman obat tradisional. Salah satunya jenis Spatholobus littoralis Hassk yang masyarakat lokal menyebutnya bajakah, digunakan sebagai campuran ramuan penyakit kanker dan jenis Fibraurea tinctoria yang digunakan sebagai obat penyakit kuning. Berdasarkan eksplorasi Spatholobus littoralis Hassk banyak ditemukan di hutan dataran rendah dan Fibraurea tinctoria banyak ditemukan di hutan kerangas Kawasan Konservasi Cagar Alam Padang Luwai. Selain berpotensi sebagai tumbuhan obat, ditemukan beberapa jenis tumbuhan sebagai kearifan lokal seperti tempera (Tetracera scandens) yang bagian daunnya digunakan untuk amplas, Sphatolobus ferrugineus (gaka kedot) yang bagian akarnya berguna sebagai tali pengikat, Litocarpus sp (pohon pelele) digunakan sebagai atap rumah, tabak bagian akarnya digunakan untuk dupa pada acara adat.

2. Potensi Non Hayati

Cagar Alam Padang Luwai merupakan kawasan hutan kerangas, yang tanahnya berupa kersik (pasir) yang berwarna putih. Hutan kerangas yang selalu berdampingan dengan hutan rawa-gambut memiliki manfaat ekologi, ekonomi, dan sosial. Manfaat hutan kerangas terdiri atas fungsi: hidrologi, biokimia, dan ekologi.

 

Desa Penyangga

Cagar Alam Padang Luwai  yang berada di Kabupaten Kutai Barat berbatasan langsung dengan 3 desa yaitu Desa Sekolaq Darat (Kecamatan Sekolaq Darat), Desa Empas (Kecamatan Melak) dan Desa Keay (Kecamatan Damai). Diantara ketiga desa tersebut, Desa Sekolaq Darat merupakan desa terbesar dan menjadi pintu masuk utama ke kawasan Cagar Alam Padang Luwai. 

Desa Penyangga CA Padang Luwai.png 18.51 KB

Ancaman dan Tantangan  

Cagar Alam Padang Luwai merupakan kawasan hutan kerangas, yang tanahnya berupa kersik (pasir) yang berwana putih. Ciri hutan kerangas antara lain tanahnya miskin unsur hara, serta tumbuhan yang ada berukuran kecil-kecil. Kawasan hutan ini pernah mengalami beberapa peristiwa kebakaran hebat. Pada tahun 1998 areal yang terbakar mencapai 75% dari luas kawasan dan hanya menyisakan ±25 ha areal yang beranggrek. Kemudian kebakaran yang terakhir tahun 2006 areal yang beranggrek tinggal ± 17 ha. Dan pada Tahun 2014 kembali terjadi kebakaran di dalam kawasan Cagar Alam Padang Luwai dengan luas kebakaran mencapai 1.300 hektar.

Secara umum masyarakat di sekitar CA Padang Luwai mulai memanfaatkan kawasan CA Padang Luwai sebagai kebun karet. Hal ini terutama terjadi di kawasan CA yang berbatasan langsung dengan Desa Sekolaq Darat dan Desa Empas. Hal ini disebabkan karena lahan masyarakat di kedua desa tersebut terbatas sedangkan masyarakat membutuhkan lahan sebagai kebun karet. Oleh karena itu, masyarakat menjadikan kawasan CA menjadi altematif lahan perluasan kebun karet mereka. 


Pengelolaan dan Kebijakan 

Cagar Alam Padang Luwai dikelola oleh Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong Balai KSDA Kalimantan Timur. Penjagaan kawasan dilakukan dengan menjalankan Smart Patrol bersama dengan masyarakat Mitra Polhut. Pemberdayaan masyarakat disekitar kawasan sebagai upaya penyadartahuan masyarakat dan meningkatkan rasa kebersamaan dengan tujuan mendorong ekonomi keluarga yang sejalan dengan fungsi kawasan Cagar Alam Padang Luwai.


Kontak dan Informasi

Jl. Tambak Rel No. 9 RT 11, Kel. Baru, Kec. Tenggarong, Kab. Kutai Kartanegara 75512, HP Sumarso, S.Hut. : 081237004895 

WhatsApp