Taman Wisata Alam Padang Luwai

Taman Wisata Alam Padang Luwai

Sejarah Kawasan

Taman Wisata Alam (TWA) Padang Luwai merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki fungsi utama untuk pariwisata dan rekreasi berbasis alam atau ekowisata, sambil tetap menjaga kelestarian flora, fauna, dan ekosistem di dalamnya. TWA ini menawarkan daya tarik berupa keunikan flora, fauna, dan bentang alamnya. 

Secara administratif, TWA Padang Luwai terletak di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, yang mencakup tiga desa yaitu Desa Sekolaq Darat (Kecamatan Sekolaq Darat), Desa Empas (Kecamatan Melak), dan Desa Keay (Kecamatan Damai).

Sebelum ditetapkan sebagai TWA, kawasan ini merupakan bagian dari Cagar Alam Padang Luwai. Penetapan TWA Padang Luwai dengan luas 2.326,47 ha didasarkan pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 548 Tahun 2024, yang juga mengatur tentang perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan.


Rincian Kawasan

Luas: 2.326,47 Ha.

Penetapan: Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor 548 Tahun 2024.

Lokasi Administratif: Desa Sekolaq Darat, Desa Empas, dan Desa Keay, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Koordinat Geografis: 0°17'19"-0°22'22" Lintang Selatan dan  115°42'37"-115°47'42" Bujur Timur.


Batas-Batas Kawasan TWA Padang Luwai

Batas Kawasan TWA Padang Luwai.png 16.95 KB

Kondisi Fisik dan Ekosistem 

TWA Padang Luwai terletak di daerah dataran rendah dengan topografi bergelombang, dengan ketinggian yang berkisar antara 35 hingga 120 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini dipengaruhi oleh iklim tropis basah (tipe A menurut Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan tahunan tinggi, sekitar 2.500 hingga 3.500 mm per tahun.

Jenis tanah di TWA Padang Luwai meliputi Ultisol dan Podsolik Merah Kuning. Ekosistem yang khas di kawasan ini adalah Hutan Kerangas. Hutan kerangas ditandai dengan tanah kersik berwarna putih yang miskin unsur hara, sehingga hanya jenis vegetasi tertentu yang mampu beradaptasi.3. Potensi Flora dan Fauna

Kawasan TWA Padang Luwai adalah habitat penting bagi berbagai spesies langka dan endemik, terutama flora khas ekosistem hutan kerangas.A. Flora (Vegetasi)

TWA Padang Luwai dikenal sebagai habitat penting bagi berbagai spesies anggrek, khususnya Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) yang merupakan flora khas kawasan ini. Selain itu, kawasan ini memiliki jenis tumbuhan karnivora Kantong Semar (Nepenthes spp.).


Spesies Flora Kunci Hasil Inventarisasi 

1. Anggrek

Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata), Anggrek Anyaman Runcing (Dendrobium acinaciforme), Anggrek Merpati (Dendrobium crumenatum), Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum), Coelogyne foerstermanii, dan Coelogyne rochussenii.

2. Kantong Semar

Nepenthes gracilis, Nepenthes mirabilis, dan Nepenthes reinwardtiana.

3. Hutan Meranti Merah

Hutan seluas 12 ha ini berada di dalam ekosistem hutan kerangas. Vegetasi tingkat pohon didominasi oleh Balangeran (Shorea balangeran) (INP: 198,22%) dan Schima wallichii (INP: 101,78%).


Fauna

Keanekaragaman fauna di TWA Padang Luwai cukup beragam. Berdasarkan laporan terdahulu, tercatat ada 41 spesies burung dari 19 famili, dengan dominasi oleh Cabai merah (Dicaeum cruentatum), Walet sapi (Collocalia esculenta), dan Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier).

Jenis Fauna yang Dijumpai pada Survei 2025

Jenis Fauna yang Dijumpai pada Survei 2025.png 40.39 KB

Potensi Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA)

TWA Padang Luwai memiliki potensi ekowisata yang tinggi dan beragam.

Potensi ODTWA Utama :

Potensi ODTWA Utama.png 32.29 KB

Area camping ground berdekatan dengan Aliran Sungai Nabah, yang dapat dimanfaatkan untuk wisata air ringan seperti bermain air dan memancing.5. Aksesibilitas dan Sarana Penunjang

Aksesibilitas menuju TWA Padang Luwai tergolong cukup baik.

Dari Tenggarong (Darat): Sekitar 296 km, waktu tempuh 7-8 jam.

Dari Samarinda (Darat): Sekitar 323 km, waktu tempuh 8-9 jam.

Dari Balikpapan (Udara): Penerbangan perintis 50-60 menit ke Bandara Melalan, dilanjutkan jalur darat 20 km (40 menit).

Dari Taman Budaya Sendawar (Kutai Barat): Sekitar 17 km, waktu tempuh 30 menit.


Fasilitas Eksisting 

TWA Padang Luwai memiliki fasilitas dasar seperti pos penjagaan, pusat informasi, menara pantau, dan jembatan kayu. Namun, hasil inventarisasi menunjukkan bahwa beberapa fasilitas ini mengalami kerusakan akibat penggunaan jangka panjang dan kurangnya pemeliharaan rutin, sehingga tidak berfungsi secara optimal.6. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Penyangga

Masyarakat penyangga TWA Padang Luwai tersebar di tiga desa: Sekolaq Darat, Empas, dan Empakuq.

Ringkasan Demografi Masyarakat Penyangga (Data BPS 2024)

Ringkasan Demografi Mayarakat Penyangga.png 28.67 KB
Keterlibatan masyarakat lokal, terutama di sektor pertanian dan perkebunan, membuka peluang besar untuk pengembangan ekowisata berbasis komunitas.



WhatsApp