Taman Wisata Alam Pulau Sangalaki

Taman Wisata Alam Pulau Sangalaki

Informasi Umum

Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut Pulau Sangalaki merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki nilai penting secara ekologis dan wisata alam. Kawasan ini berfungsi sebagai Taman Wisata Alam (TWA) dan Taman Wisata Alam Laut, yang dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata alam, pendidikan, penelitian, serta pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Secara administratif, TWA dan TWA Laut Pulau Sangalaki terletak di Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan ini memiliki luas sekitar 280,07 ha. Secara geografis, kawasan Pulau Sangalaki berada pada koordinat  02°5’15”-02°5’9”LU dan 118°23’52”-118°23’48”BT, yang menjadikannya bagian dari wilayah pesisir dan perairan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Peta Kawasan Pulau Sangalaki.png 214.63 KB

Sejarah Kawasan

Pulau Sangalaki beserta perairannya ditunjuk sebagai Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Sangalaki berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 604/Kpts/Um/8/1982 tanggal 19 Agustus 1982. Penunjukan ini didasarkan pada nilai penting kawasan yang memiliki kondisi alam khas, baik hewani maupun nabati, serta ekosistem laut pantai dengan komponen khas berupa keanekaragaman terumbu karang dan ikan hias. Kawasan ini perlu dijaga kelestariannya agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan. 

Pada tahun 2001, diterbitkan Instruksi Bupati Berau Nomor 60/2346-Um/XII/2001 yang menetapkan Pulau Derawan dan Pulau Sangalaki sebagai kawasan larang ambil telur penyu (full protected). Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh munculnya kekhawatiran terhadap kelestarian penyu. Dalam pelaksanaannya, ditetapkan bahwa 20 persen dari pemanfaatan telur penyu untuk ditetaskan dan tidak boleh diperdagangkan. Selain itu, diterbitkan Surat Keputusan Bupati Berau Nomor 35 Tahun 2001 tentang Pembentukan Tim Monitoring dan Penelitian Penyu di Pulau Sangalaki dan Pulau Derawan, serta Surat Keputusan Bupati Berau Nomor 36 Tahun 2001 tentang Pembentukan Tim Pengawasan dan Pengamanan Konservasi Pulau Sangalaki, Pulau Derawan, dan sekitarnya. 

Selanjutnya, melalui Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 60 Tahun 2019, ditegaskan bahwa Pulau Sangalaki merupakan tempat peneluran penyu, yang didominasi oleh Penyu Hijau (C.mydas), dan telah dimanfaatkan sejak masa Kerajaan Berau. Namun, seiring perkembangan waktu dan meningkatnya tekanan terhadap populasi penyu, dilakukan berbagai upaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan spesies tersebut. 

Pada tahun 2022, dilakukan tata batas kawasan yang dituangkan dalam Berita Acara Tata Batas Taman Wisata Alam Pulau Sangalaki di Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, dengan panjang batas 6.195,36 meter dan luas kawasan 280,07 ha, tertanggal 26 Oktober 2022.

Sebagai penguatan status kawasan, pada tahun 2023 ditetapkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.7846/MENLHK-PKTL/PPKH/PLA.2/7/2023 tanggal 31 Juli 2023 tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut Pulau Sangalaki seluas 280,07 ha di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur.


Kondisi Fisik dan Ekologis

1. Iklim
Kondisi iklim di Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Sangalaki sangat dipengaruhi oleh sistem iklim Samudera Pasifik yang terdiri dari musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung pada bulan Oktober hingga Mei dengan jumlah hari hujan rata-rata 15–20 hari per bulan. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada akhir atau awal musim hujan. Musim kemarau berlangsung antara bulan Juli hingga September dengan curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli. Suhu udara rata-rata berkisar antara 24,8°C–27,9°C. Suhu udara minimum berada pada kisaran 19°C–23,2°C, sedangkan suhu udara maksimum berkisar antara 32°C–35,6°C. Fluktuasi suhu harian relatif kecil, dengan perbedaan suhu maksimum dan minimum berkisar 10°C–12°C, sehingga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara suhu siang dan malam hari.

2. Geologi dan Topografi
Pulau Sangalaki diidentifikasi sebagai gosong yaitu timbunan pasir pantai dengan satuan morfologi berupa dataran pantai yang datar. Pulau ini mempunyai laguna dangkal berdasar pasir dan ditumbuhi oleh karang dan lamun di sekelilingnya.  Material penyusun pantai Pulau Sangalaki berupa fragmen karang dan butiran-butiran pasir kasar dengan tipe batuan yang berasal dari laut. Tipe pantai Pulau Sangalaki adalah pantai berpasir dengan rataan karang, material pantai meliputi fragmen karang halus dan karang masif.  Lebar pantai Pulau Sangalaki sekitar 12 – 15 m, zona pasang surut mencapai 250 m dan panjang garis pantai pada saat pasang (keliling pantai) ± 1.600 m.  Kemiringan pantai antara 6-11°, sedangkan kemiringan dasar perairan antara 10-45° dengan kedalaman perairan berkisar antara 0 – 50 m.

3. Perairan Laut
Perairan kawasan TWA Pulau Sangalaki merupakan bagian dari Perairan Laut Sulawesi, yang termasuk dalam daerah yang dilalui pintasan arus dunia (Great Conveyor Belt) yang melewati perairan Indonesia. 


Keanekaragaman Hayati

1. Tipe Ekosistem
Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Sangalaki memiliki empat (4) tipe ekosistem utama, yaitu ekosistem hutan dataran rendah, hutan pantai, lamun, dan terumbu karang.  

Tipe Ekosistem TWA Pulau Sangalaki.png 46.61 KB

2. Tumbuhan
Wilayah perairan terutama diperairan dangkal sedikitnya terdapat 5 (lima) jenis lamun yang tumbuh berkelompok antara lain Thalasia hemprichii, Cyamodocea rotundata, Halophila ovalis, Enhalus acroides, dan Halodule uninervis. Dari lima jenis lamun tersebut, lamun Halophila ovalis mendominasi penutupan lahan di perairan dangkal TWA Pulau Sangalaki.

Tumbuhan TWA Pulau Sangalaki.png 90.02 KB

3. Satwa
Perjumpaan harian satwa dari jenis burung sebanyak 20 jenis yang didominasi jenis Kuntul karang (Egretta sacra) dan Cekakak sungai (Todirhampus chloris) namun secara keseluruhan perjumpaan harian satwa jenis Biawak air (Varanus salvator) lebih banyak dari jenis satwa lainnya. Keberadaan Biawak air (Varanus salvator) sebagai bagian ekosistem TWA Pulau Sangalaki juga menjadi predator utama bagi telur penyu dan bayi penyu, dimana Biawak air (Varanus salvator) mudah dijumpai di TWA Pulau Sangalaki terutama di area pantai yang terdapat sarang telur penyu.

Biawak.jpg 1.17 MB

4. Biota Laut
Biota laut dari jenis terumbu karang mendominasi di perairan sedangkan untuk ikan hias dari jenis ikan badut (Amphiprion sp.) mudah dijumpai di terumbu karang lunak. Terdapat 12 Family karang dengan jumlah terbanyak dari Family Acroporidae dengan jumlah spesies sebanyak 14 spesies. Sebanyak 3 (tiga) jenis karang memiliki populasi melimpah dengan nilai lebih dari 100 koloni dari jenis Isopora brueggemanni, Galaxea fascicularis dan Pocillopora sp. Data populasi karang tersebut diperoleh dari hasil identifikasi jenis karang melalui penyelaman bawah laut di perairan dangkal dan dalam TWA Pulau Sangalaki Tahun 2018. 

Biota Laut TWA Pulau Sangalaki.png 54.93 KB

Potensi dan Pemanfaatan

1. Pemandangan Alam Bawah Laut
TWA Pulau Sangalaki memiliki pemandangan alam bawah laut yang sangat menarik dan sudah dikenal hingga mancanegara dengan potensi keindahan terumbu karang beserta berbagai jenis biota laut lainya, di antaranya Penyu hijau, ikan hias, dan ikan karang yang beraktivitas disekitar terumbu karang. Pemandangan bawah laut hanya bisa dinikmati dengan penyelaman (Diving) dengan waktu ideal pengamatan saat pasang air laut di pagi maupun sore hari. 

Pemandangan Alam Bawah Laut Pulau Sangalaki.png 826.73 KB

2. Pengamatan Parimanta (Manta birostris)
Jenis parimanta yang menghuni wilayah perairan TWA Pulau Sangalaki dengan nama ilmiah Manta birostris dapat dengan mudah dijumpai di perairan TWA Pulau Sangalaki di sisi Timur Laut kawasan. Parimanta mudah dijumpai saat sedang mencari pakan yang bersumber dari organisme laut jenis Plankton dengan waktu ideal perjumpaan saat pasang air laut dipagi hari. Pengamatan parimanta dapat dinikmati melalui penyelaman (Diving) dan Snorkeling.
Parimanta.png 510.13 KB

3. Aktivitas Pendaratan Induk Penyu Hijau
Potensi wisata pengamatan aktivitas pendaratan induk penyu hanya dapat dinikmati dimulai matahari terbenam hingga terbitnya matahari. Pendaratan induk penyu hijau di pantai Pulau Sangalaki adalah induk penyu yang akan menyimpan telurnya di pantai Pulau Sangalaki dengan jumlah telur berkisar 70 s/d 130 butir. Induk penyu yang akan bertelur memilih tempat menyimpan telurnya dengan kedalaman lubang telur berkisar 50 s/d 70 cm untuk diarea tertutup/ternaungi sedangkan di area terbuka/tanpa naungan berkisar 70 s/d 90 cm. Adapun waktu tercepat induk penyu mulai awal mendarat sampai bertelur dan kembali ke laut sekitar 2 jam. 

Penyu Hijau.jpg 1.69 MB

4. Penetasan Telur Penyu
Potensi daya tarik bagi pengunjung wisata di TWA Pulau Sangalaki salah satunya menyaksikan penetasan telur penyu semi alami hasil relokasi telur penyu di tempat penetasan telur penyu semi alami (Hatchery). Terdapat dua bangunan Hatchery yang difungsikan sebagai tempat penetasan semi alami hasil relokasi berupa bangunan kayu tidak beratap yang didalamnya terdapat lubang tempat penyimpanan telur penyu hasil relokasi dari sarang alaminya. 


5. Bird Watching
TWA Pulau Sangalaki memiliki beragam jenis burung baik burung kicau maupun burung air yang dapat menjadi daya tarik minat khusus bagi penggiat satwa khususnya pengamat/peneliti burung. Sedikitnya sebanyak 20 jenis burung teridentifikasi yang bersumber dari data perjumpaan harian satwa dan tidak menutup kemungkinan adanya penambahan jenis burung TWA Pulau Sangalaki.

Burung Junai Emas.png 1007.24 KB

6. Wisata Pantai Pasir Putih
TWA Pulau Sangalaki memiliki pantai berpasir putih mengelilingi Pulau Sangalaki dan menjadi habitat peneluran induk penyu hijau (C.mydas) dengan lokasi favorit pendaratan induk penyu hijau berada di sisi barat Pulau Sangalaki. Pasir putih Pulau Sangalaki secara alami terbentuk dari butiran pasir halus bercampur pecahan batuan karang dan organisme laut lainnya. 

Pantai Pasir Putih.png 821.44 KB

7. Sunset dan Sunrise Sangalaki
Pemandangan terbit dan tenggelamnya matahari di TWA Pulau Sangalaki sangat menarik dengan perpaduan unsur unsur alam berupa hamparan pasir putih, lautan, dan ekosistem hutan pantai yang menciptakan keindahan pemandangan panorama alam. Pemandangan panorama alam ini dapat dinikmati hampir di semua sisi Pulau Sangalaki terutama di area dengan hamparan pasir putih yang lebar di sisi barat Pulau Sangalaki.

Panorama Matahari Terbenam.png 561.35 KB

Ancaman dan Tantangan

1. Pencurian Telur Penyu
TWA Pulau Sangalaki sebagai habitat peneluran Penyu hijau (C.mydas) tidak terlepas dari gangguan kawasan seperti pencurian telur penyu. Tingginya minat masyarakat untuk mengkonsumsi telur penyu sebagai obat penambah stamina tubuh menjadikannya rentan dicuri baik itu untuk dikonsumsi sendiri maupun diperdagangkan secara illegal dengan harga berkisar 10.000 perbutirnya. 


2. Bom, Racun Ikan, serta Predator Pemangsa Telur Penyu dan Bayi Penyu
Ancaman dari luar batas kawasan berupa bom dan racun ikan yang dilakukan masyarakat sekitar agar mendapatkan hasil laut melimpah dalam waktu singkat. Kejadian bom ikan maupun racun ikan biasanya terjadi di perairan antara perairan TWA Pulau Sangalaki dengan Pulau Kakaban di kedalaman lebih dari 150 meter yang menjadi daerah jelajah berbagai jenis mamalia laut dan ikan konsumsi bernilai ekonomis seperti ikan tongkol, ikan tuna, ikan putih, ikan bandeng dan ikan konsumsi lainnya. 


3. Sampah laut
TWA Pulau Sangalaki sebagai kawasan konservasi dengan ekosistem laut rawan adanya sampah kiriman atau sampah yang hanyut masuk kedalam kawasan. Sampah kiriman tentunya akan mengganggu fungsi ekologis biota laut yang ada di TWA Pulau Sangalaki karena sampah akan menimbulkan dampak pencemaran/polusi air laut yang berakibat kerusakan ekosistem laut. 


Desa Penyangga

Desa Penyangga TWA Pulau Sangalaki.png 26.21 KB
Kecamatan Pulau Derawan Dalam Angka. BPS Kab. Berau. 2023


Pengelolaan dan Kebijakan

TWA Pulau Sangalaki dikelola oleh Seksi Konservasi Wilayah I Berau Balai KSDA Kalimantan Timur. Penjagaan kawasan dilakukan selama 24 jam dengan menjalankan Smart Patrol bersama dengan masyarakat Mitra Polhut. Pengelolaan kunjungan wisata alam baik dari wisata nusantara mapun wisata mancanegara. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan sebagai upaya penyadartahuan masyarakat dan meningkatkan rasa kebersamaan dengan tujuan mendorong ekonomi keluarga yang sejalan dengan peningkatan pelayanan pengunjung wisata melalui pemenuhan kebutuhan utama pengunjung wisata (Multiplier effect).

TWA Pulau Sangalaki.png 1.1 MB

Kontak dan Informasi

Jl. Murjani II No.8, Kel. Karang Ambun, Kec. Tanjung Redeb, Kab. Berau 77311, HP Yanmas: 081218839030 

WhatsApp