
PASER – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melalui Resor KSDA Wilayah 13 Paser bergerak cepat dalam menangani konflik satwa dan menyelamatkan dua ekor Bekantan (Nasalis larvatus) betina dewasa yang ditemukan terluka dalam dua hari berturut-turut di wilayah Kabupaten Paser. Satwa endemik Kalimantan tersebut dilaporkan menjadi korban kecelakaan lalu lintas akibat tertabrak kendaraan.
Upaya penyelamatan yang berlangsung pada tanggal 22 dan 23 Mei 2026 ini berjalan dengan sukses berkat koordinasi intensif antara masyarakat setempat, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Paser, UPTD Pusat Kesehatan Hewan, dan petugas Resor KSDA. Setelah menerima perawatan medis yang memadai, kedua primata berhidung panjang tersebut kini telah kembali ke habitat alaminya di kawasan Cagar Alam Teluk Adang.
Peristiwa pertama terjadi pada hari Jumat, 22 Mei 2026. Resor KSDA Wilayah 13 Paser menerima penyerahan seekor Bekantan betina dewasa dari pihak Damkar Kabupaten Paser. Satwa tersebut awalnya ditemukan oleh warga di Desa Janju, tepatnya di jalur menuju Kampung Warna Warni, dengan kondisi terluka di bagian kepala sebelah kiri serta bagian kaki akibat benturan kendaraan yang tidak diketahui jenisnya. Guna mencegah tingkat stres yang tinggi pada satwa, petugas segera membawa Bekantan tersebut ke dokter hewan di UPTD Pusat Kesehatan Hewan Kabupaten Paser untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Setelah kondisi fisik terpantau stabil selama observasi singkat di kantor resor pasca-perawatan, satwa langsung dilepasliarkan pada sore hari yang sama di Kawasan Cagar Alam (CA) Teluk Adang dengan lokasi berada di hutan mangrove Desa Pondong Baru.
Hanya berselang satu hari, pada Sabtu, 23 Mei 2026, laporan serupa kembali diterima oleh pihak Resor KSDA Paser. Seekor Bekantan betina dewasa ditemukan oleh warga di Desa Tepian Batang, tepat di depan SMKN 4 Tanah Grogot Berdasarkan saksi mata di lokasi, sekelompok Bekantan memang sempat terlihat berada di area tersebut sebelum salah satunya diduga tertabrak oleh kendaraan yang melintas.
Beruntung luka yang dialami Bekantan kedua di bagian pelipis dan hidung dikategorikan tidak terlalu parah. Setelah melalui tahap pembersihan luka dan observasi perilaku di dalam kandang transit untuk memastikan fungsi motorik dan kondisinya normal, satwa tersebut langsung diantarkan ke lokasi rilis pada sore harinya di Kawasan Cagar Alam (CA) Teluk Adang dengan lokasi berada di hutan mangrove Desa Pondong Baru
Pemilihan hutan mangrove Desa Pondong Baru di kawasan Cagar Alam Teluk Adang sebagai lokasi pelepasliaran didasarkan pada pertimbangan ekologis yang matang. Wilayah ini kaya akan vegetasi pakan alami utama Bekantan seperti spesies Rhizophora sp., Bruguiera sp., dan Sonneratia sp. Selain itu, kawasan ini juga merupakan habitat asli di mana kelompok Bekantan liar lainnya sering dijumpai, sehingga memudahkan kedua satwa tersebut untuk berintegrasi kembali dengan kelompoknya.
Langkah pelepasliaran sesegera mungkin ini diambil sebagai prosedur standar untuk meminimalkan risiko stres berkepanjangan (distress) pada satwa liar, yang sering kali menjadi penyebab utama penurunan kondisi kesehatan satwa pasca-evakuasi.
Keberhasilan penanganan ini membuktikan pentingnya sinergi cepat antara warga, Damkar, tim medis hewan, serta otoritas konservasi. Di sisi lain, dua kejadian berturut-turut ini juga menjadi pengingat penting bagi para pengguna jalan di sekitar kawasan hijau Kabupaten Paser untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap perlintasan satwa liar demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Kalimantan.





