

Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) saat ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dengan jumlah individu yang sangat terbatas dan habitat yang terfragmentasi. Sebagai salah satu spesies prioritas, penyelamatan melalui proses translokasi menjadi strategi konservasi yang dipertimbangkan secara serius untuk mengelola populasi dan menyelamatkan genetik spesies tersebut. Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, dalam sambutannya menekankan bahwa operasi penyelamatan satwa langka seperti Badak Pari Mahulu tidak hanya rumit dari sisi teknis medis, tetapi juga sangat sensitif dari sisi informasi.
"Penyebaran informasi yang tidak terkendali mengenai lokasi, waktu pergerakan, hingga kondisi badak berpotensi mengancam keselamatan satwa dan mengganggu kelancaran tim di lapangan. Melalui SOP ini, kita ingin memastikan seluruh informasi terkelola secara terpusat dan mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar M. Ari Wibawanto
Pelaksanaan penyelamatan dan translokasi badak memiliki kompleksitas tinggi, baik dari aspek teknis medis maupun pengelolaan komunikasi. Mengingat sifat kegiatan yang sangat sensitif, informasi mengenai lokasi keberadaan satwa, waktu pelaksanaan, jalur mobilisasi, hingga kondisi individu Badak Pari Mahulu rentan disalahgunakan dan dapat mengancam keselamatan satwa jika tersebar secara tidak terkendali.
Di sisi lain, tingginya perhatian publik dan media memerlukan mekanisme penyampaian informasi yang akurat dan terkoordinasi guna menghindari simpang siur informasi atau perbedaan interpretasi yang dapat berdampak pada reputasi program konservasi. Oleh karena itu, penyusunan SOP Komunikasi dan Dokumentasi ini dipandang sebagai langkah mendesak demi memastikan seluruh informasi dikelola secara terpusat dan berprinsip kehati-hatian.
Melalui lokakarya ini, forum koordinasi menyepakati sejumlah poin penting, termasuk penyusunan alur komunikasi internal dan eksternal, mekanisme penunjukan juru bicara resmi, klasifikasi tingkat kerahasiaan informasi, serta protokol manajemen krisis komunikasi.
Melalui lokakarya ini, BKSDA Kalimantan Timur bersama para pihak terkait berhasil merumuskan beberapa dokumen keluaran utama, di antaranya dokumen final SOP Komunikasi dan Dokumentasi Penyelamatan, bagan alur komunikasi, protokol penanganan krisis, serta Berita Acara kesepakatan hasil lokakarya sebagai dasar implementasi di lapangan.
Dengan adanya standarisasi komunikasi ini, proses translokasi dan penyelamatan Badak Pari Mahulu diharapkan dapat berjalan secara aman, efektif, dan terkoordinasi dengan optimal demi kelangsungan hidup subspesies benteng terakhir Kalimantan ini.






