
SAMARINDA – Menghadapi tantangan musim kemarau dan risiko kebakaran hutan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bergerak cepat. Pada Senin, 4 Mei 2026, dilaksanakan Rapat Koordinasi Penanggulangan Kebakaran Hutan (Karhutla) yang dipimpin oleh M Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim di Ruang Rapat Sangalaki guna memperkuat sistem mitigasi di berbagai titik rawan kawasan konservasi.
Fokus koordinasi karhutla kali ini menyasar wilayah-wilayah krusial, di antaranya Cagar Alam (CA) & Taman Wisata Alam (TWA) Padang Luwai, Cagar Alam Muara Kaman Sedulang, serta Cagar Alam Teluk Adang dan Teluk Apar
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjaga ekosistem Kalimantan. Terdapat empat pilar utama yang menjadi misi dalam penguatan mitigasi tahun ini yaitu Menjaga Kualitas Udara dengan memastikan masyarakat terbebas dari ancaman kabut asap yang berdampak buruk pada kesehatan pernapasan, Melindungi Sumber Air dengan menjaga hutan tetap menjalankan fungsinya sebagai penyimpan cadangan air bersih bagi kehidupan, Pemberdayaan Masyarakat dengan memperkuat pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) agar desa-desa di sekitar kawasan lebih tangguh dan mandiri dalam menghadapi bencana serta Menjaga Keamanan Kawasan dengan menekan potensi tindak pidana kehutanan serta perambahan yang dapat merusak kelestarian lingkungan.
Sebagai bentuk aksi konkret, kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan sarana prasarana (sarpras) kebakaran hutan secara simbolis. Kepala Balai menyerahkan langsung peralatan tersebut kepada masing-masing Kepala Resor.
Penyerahan ini menandai kesiapan penuh para petugas di garis depan untuk melakukan deteksi dini dan penanganan cepat jika terjadi titik api. Dengan sinergi antara teknologi, peralatan yang memadai, dan personel yang kompeten, BKSDA Kaltim optimistis dapat meminimalisir dampak Karhutla di tahun 2026 ini.
Mari bersama kita jaga hutan kita!





