
JAKARTA — Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto memaparkan rencana translokasi badak kalimantan yang diberi nama Pari Mahulu dalam pertemuan bersama Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni yang berlangsung pada 12 Agustus 2026 di ruang rapat Menteri Kehutanan Gedung Manggala Wanabakti Jakarta.

Selain paparan dari BKSDA Kalimantan Timur, turut pula Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) menyampaikan perhatian dan masukan kepada Menteri Kehutanan terkait rencana translokasi badak Pari. Penyampaian tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah dan para pihak yang memiliki perhatian terhadap upaya perlindungan badak di Indonesia.

Pertemuan di ruang rapat Menteri Kehutanan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam upaya konservasi satwa liar. Dukungan kebijakan dari pemerintah pusat diharapkan dapat mempercepat langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan proses translokasi badak Pari berjalan sesuai prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa.
Melalui koordinasi antara BKSDA Kalimantan Timur, ALeRT, dan para pemangku kepentingan lainnya, upaya penyelamatan badak Pari Mahulu diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah nyata dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia serta melindungi satwa yang keberadaannya semakin penting bagi masa depan konservasi.






