

Lanskap Keraitan yang membentang di Kabupaten Kutai Timur merupakan salah satu habitat krusial bagi sekitar 2.000 individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio). Namun, di sisi lain, kawasan ini juga tercatat sebagai wilayah dengan tingkat interaksi dan konflik antara manusia dan orangutan yang cukup tinggi.
Saat membuka kegiatan, Kepala Balai KSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto menegaskan bahwa upaya perlindungan satwa endemik ini tidak bisa lagi hanya bertumpu pada kawasan konservasi formal yang sudah ada.
"Perlindungan orangutan tidak dapat hanya mengandalkan kawasan konservasi. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat untuk menjaga habitat satwa liar yang sebagian besar justru berada di luar kawasan konservasi formal," ujar M. Ari Wibawanto.
Menanggapi tantangan tersebut, Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi turut memaparkan strategi baru. Kasubdit Bina Areal Preservasi, Dewi Sulastriningsih, menjelaskan bahwa skema Areal Preservasi Habitat Orangutan merupakan pendekatan inovatif yang dirancang agar perlindungan satwa liar dapat berjalan selaras dengan aktivitas pembangunan.
"Pendekatan baru ini dirancang untuk memastikan perlindungan habitat satwa liar dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan," jelas Dewi.
Tantangan di lapangan diakui oleh Kepala KPH Bengalon, Nasrudin Alamsyah. Ia menekankan bahwa keberhasilan konservasi di Lanskap Keraitan sangat bergantung pada komitmen para pengelola lahan di tingkat tapak.
"Keberhasilan upaya konservasi di Lanskap Keraitan membutuhkan komitmen dan kolaborasi seluruh pihak yang mengelola maupun memanfaatkan kawasan, mengingat habitat orangutan tersebar di berbagai fungsi lahan," tegas Nasrudin.

Dukungan nyata juga datang dari penggiat konservasi Paulinus Kristanto, menyatakan kesiapan dunia usaha dalam mendukung penuh pengembangan Areal Preservasi ini. Menurutnya, inisiatif ini merupakan wujud kolaborasi multipihak demi menjaga keseimbangan antara produktivitas kegiatan usaha dan kelestarian keanekaragaman hayati dalam satu kesatuan lanskap.
Inisiatif di Lanskap Keraitan ini diyakini akan menjadi langkah bersejarah. Keraitan bahkan diproyeksikan menjadi salah satu percontohan (pilot project) pertama penerapan Areal Preservasi Habitat Orangutan di Indonesia.
Melalui integrasi peta arahan ini, kolaborasi multipihak menjadi kunci utama untuk memastikan roda pembangunan ekonomi tetap berjalan, tanpa harus mengorbankan ruang hidup dan koridor hijau bagi satwa liar. Dari Keraitan untuk Indonesia, sebuah masa depan konservasi yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan kini mulai dibangun.






