
TARAKAN – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bekerja sama dengan mitra pelaksana WWF-Indonesia dan WWF-Malaysia menerima Kunjungan Kehormatan Delegasi Sabah Wildlife Department (SWD) Malaysia pada 22–25 September 2026 di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Pertemuan strategis lintas batas negara ini digelar guna memperkuat hubungan kelembagaan, membangun mekanisme komunikasi berkelanjutan, serta menyusun langkah konkret penanganan kejahatan satwa liar terorganisir dan pelestarian Gajah Borneo di lanskap perbatasan Indonesia–Malaysia.
Wilayah perbatasan antara Kalimantan Utara dan Sabah merupakan lanskap ekologis penting bagi keberlangsungan hidup Gajah Borneo (Elephas maximus borneensis) serta satwa terancam punah lainnya. Berdasarkan data IUCN tahun 2024, populasi Gajah Borneo di alam liar diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.000 individu. Populasi terbesar berada di wilayah Sabah seperti Tabin, Kinabatangan, dan Central Sabah, sementara di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara, tercatat berkisar kurang lebih 13 individu. Gajah-gajah di wilayah perbatasan secara alami memiliki daya jelajah yang melintasi batas administratif kedua negara untuk mencari pakan dan berkembang biak. Sebagai spesies payung (umbrella species), upaya mempertahankan konektivitas habitat gajah tidak hanya menyelamatkan populasi gajah itu sendiri, tetapi juga memberi dampak langsung pada kelestarian ekosistem dan satwa liar lainnya.
Di samping ancaman degradasi habitat, maraknya perburuan liar dan tindak kejahatan penyelundupan gading gajah lintas negara menjadi perhatian serius bersama. Pengalaman kolaborasi antara SWD, BKSDA Kaltim, dan Balai Gakkum LHK Wilayah Kalimantan pada kurun waktu 2017–2019 dalam menghentikan kasus penyelundupan gading gajah di Nunukan menjadi bukti pentingnya fondasi koordinasi yang kuat. Oleh karena itu, pertemuan ini menjadi momentum vital untuk menghidupkan kembali jaringan komunikasi serta merumuskan strategi penanggulangan bersama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan selamat datang (Welcome Dinner) pada Selasa malam (22/09/2026) di Swiss-Belhotel Tarakan. Selanjutnya, agenda utama Workshop Lintas Batas dilaksanakan pada Rabu, 23 September 2026 di lokasi yang sama. Sesi workshop dibuka secara resmi setelah penyampaian sambutan dari Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan RI, Direktur Sabah Wildlife Department (SWD), serta Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara.
Pertemuan ini dihadiri oleh puluhan pemangku kepentingan (stakeholders) kunci dari kedua negara. Delegasi Sabah melibatkan perwakilan Sabah Wildlife Department (SWD), Sabah Forestry Department (SFD), Attorney General’s Chambers (AGC), Wildlife Crime Bureau (RMP), Royal Malaysian Customs Department, General Operations Force, Marine Operations Force, Danau Girang Field Center (DGFC), dan WWF-Malaysia. Sementara delegasi Indonesia diikuti oleh perwakilan Ditjen KSDAE, Ditjen Gakkumhut, BKSDA Kaltim, Balai Gakkum LHK Wilayah Kalimantan, Bappeda Kaltara, Dinas Kehutanan Kaltara, DKP Kaltara, Bea Cukai Tarakan dan Nunukan, DLH Nunukan, Balai Karantina (BKHIT) Tarakan, KPH Nunukan, KPH Tarakan, Satgas Pamtas Nunukan, Ditreskrimsus Polda Kaltara, Kejaksaan Negeri Nunukan, pengelola Bandara Juwata dan Pelindo/Pelabuhan Malundung, FKGI, Gappeta Borneo, serta WWF-Indonesia. Dalam diskusi interaktif, kedua belah pihak saling bertukar informasi mengenai pemutakhiran data populasi Gajah Borneo, pola pergerakan di koridor perbatasan, evaluasi kasus penegakan hukum kejahatan satwa demi merespons potensi ancaman penyelundupan satwa liar secara lebih cepat dan akurat.







