
Berau, Juni 2026 – Dalam upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melalui Seksi KSDA Wilayah I Berau menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga. Kegiatan ini menyasar dua kawasan penting, yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Sangalaki dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Semama yang berada di Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau.
Program pemberdayaan yang telah berjalan secara bertahap sejak tahun 2021 hingga tahun 2026 ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia melalui Dukungan Sumber Dana Kerjasama Indonesia-Norwegia Tahap Kedua dan Ketiga (FOLU-NC2&3). Komitmen tersebut fokus pada pencapaian target penyerapan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan yang lebih besar daripada emisi yang dihasilkan (Net Sink), di mana peran serta masyarakat sekitar kawasan konservasi menjadi kunci utamanya.

Pendekatan pengelolaan kawasan konservasi saat ini menerapkan Integrated Prevention Model (IPM). Model ini mengintegrasikan perlindungan kawasan dengan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat agar ketergantungan warga terhadap pemanfaatan langsung sumber daya di dalam kawasan konservasi dapat berkurang.
Ruang lingkup Monev kali ini berfokus pada dua kelompok binaan di Kecamatan Maratua yang memiliki unit usaha produktif berbasis potensi lokal, yaitu Kelompok Masyarakat Lebbangan Pamullaan di Kampung Payung-Payung, dengan fokus usaha produksi es batu untuk pengawetan hasil tangkapan nelayan.dan Kelompok Masyarakat Teluk Pegtimukan di Kampung Teluk Alulu, dengan fokus pengembangan lini ekowisata berupa jasa sewa perahu kano.
Pelaksanaan Monev ini mengacu pada Petunjuk Teknis Monev Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga (PMDP) Kawasan Konservasi tahun 2012 dari Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan. Tim di lapangan melakukan pengumpulan data melalui wawancara, diskusi terarah (FGD), serta observasi langsung dengan mencakup empat unsur manajemen, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling.
Tingkat keberhasilan program diukur berdasarkan indikator makro dan mikro, antara lain meningkatnya kapasitas, keterampilan, dan kemandirian SDM masyarakat, perkembangan unit usaha ekonomi dan terbukanya peluang pasar baru, terbangunnya jejaring kemitraan yang kuat antara pengelola kawasan, pemerintah kampung/kecamatan, LSM, dan dinas terkait dan tetap terpeliharanya fungsi utama kawasan hutan konservasi TWA Pulau Sangalaki dan SM Pulau Semama.
Melalui monitoring berkala ini, BKSDA Kaltim menekankan pentingnya pendampingan intensif di lapangan. Hubungan yang harmonis dan terbuka antara petugas pengelola dan warga diharapkan mampu melahirkan solusi bersama atas setiap kendala yang muncul. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi yang sah dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, sementara kelestarian flora, fauna, dan keunikan ekosistem di TWA Pulau Sangalaki serta SM Pulau Semama tetap terjaga utuh untuk masa depan.






